Selasa, 17 Juli 2012

Berita Dari Lokasi Seminar MPKP PPNI Sidoarjo







Seminar “ MPKP to improve quality of nursing care” yang digelar pada hari Sabtu (19/5) merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang sudah direncanakan pada Rapat Kerja Kabupaten (Rakerkab) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Sidoarjo. Acara yang dilaksanakan di Ruang Hipocrates Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo tersebut dihadiri oleh Pengurus PPNI Propinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Bpk. Dwi Ananto, S.ST, M.Kes selaku Sekretaris, Seluruh Pengurus PPNI Kabupaten Sidoarjo, Direktur RSUD Sidoarjo, Para Pejabat Struktural keperawatan di lingkungan RSUD Sidoarjo, Para Nara sumber yaitu Ibu Kolonel Dr.A.V. Sri Suhardiningsih, M.Kes dari MTKP Jawa Timur dan Drg. Asmanah dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur serta pada undangan dan peserta dari seluruh instansi kesehatan di Sidoarjo.
Bpk. H. Cucut Adiyanto, S.Kep.Ns selaku ketua panitia dalam sambutannya menyampaikan banyak terima kasih kepada panitia atas terselenggaranya seminar tersebut. Selain itu juga menyampaikan terima kasih kepada Direktur RSUD Sidoarjo atas perkenannya RSUD ditempati untuk kegiatan seminar ini.
Selain itu sambutan Bpk. H. Pujiono, A.Md.Kep, SH selaku ketua PPNI Kabupaten Sidoarjo juga mengaku puas dan terima kasih atas terlaksananya acara ini. Diharapkan dengan adanya seminar ini mampu meningkatkan kualitas praktek keperawatan yang selama ini masih dianggap sebagai pekerjaan rutinitas dan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh semua orang. Maka dari itu seminar ini digelar agar bisa menunjukkan bahwa praktek keperawatan adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang profesional dan berkualitas
Seminar yang dihadiri oleh 125 orang tersebut dimulai pada pukul 09.00 WIB dan dibuka oleh Direktur RSUD Sidoarjo yaitu dr. Eddy Koestantono M, MM. Dalam sambutan pembukaannya dr. Eddy menyatakan akan selalu mendukung apa yang dilakukan oleh perawat khususnya PPNI dan memberikan tempat apabila memang RSUD dijadikan lokasi acara. Dokter yang memang dekat dengan perawat tersebut juga memberikan apresiasi kepada pengurus PPNI Kabupaten Sidoarjo atas jerih payahnya menyelenggarakan acara seminar tersebut. Beliau menyampaikan bahwa seorang perawat zaman sekarang sudah tambah pinter - pinter dicontohkan bahwa ada beberapa kepala daerah atau wakil kepala daerah yang sekarang menjabat adalah dari perawat.
Lain halnya dengan sambutan Bpk. Dwi Ananto, SST, M.Kes selaku sekretaris Pengurus Propinsi PPNI Jawa Timur mengatakan bahwa sudah saatnya perawat bangkit terutama di Sidoarjo karena letak Sidoarjo yang strategis dan didukung oleh Pemerintah Kabupaten serta yang lebih penting juga karena kantor sekretariat PPNI Jawa Timur letaknya di Sidoarjo tepatnya di Ruko Gateway Pepelegi Waru. Ini memudahkan koordinasi dengan PPNI Kabupaten dan PPNI Jawa Timur.

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut setelah pembukaan dan sambutan - sambutan ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh H. Hariyanto, A.Md.Kep dari PUSKESMAS prambon.
Selanjutnya acara inti seminar yang dipandu oleh Ibu Puji Andayani, SKM, S.Kep.Ns dari RSUD Sidoarjo dan langsung memberikan gambaran singkat  tentang keperawatan di Sidoarjo setelah itu mempersilahkan Nara Sumber untuk memaparkan materinya.

Giliran pertama adalah Ibu Dr.  AV Sri Suhardiningsih, M.Kes memberikan materi tentang MPKP. Beliau sangat antusias apabila seorang perawat mampu menerapkan MPKP secara benar, diharapkan mampu mengangkat citra perawat di masa mendatang.
Dalam paparannya Bu AV demikianbeliau dipanggil sangat berkeinginan agar para perawat bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Beliau mencontohkan dirinya sendiri yang sudah berpuluh - puluh tahun menjadi perawat dan sudah meraih pangkat kolonel tetapi masih saja melanjutkan kuliah sampai mendapat gelar Doktor (s3).
Beliau mendorong para perawat untuk meningkatkan kompetensi dan ilmunya melalui pendidikan formal, minimal sarjana keperawatan.Perawat harus mempunyai pendidikan minimal S1 karena sebenarnya keanggotaan International Counsil Of Nurses (ICN)
adalah perawat yang minimal Sarjana Keperawatan.
Bagaimana dengan Sekolah Menegah kesehatan jurusan keperawatan yang sekarang menjamur? Bu AV menjelaskan bahwa hal itu tidak usah galau, biarlah itu urusan Kementerian Pendidikan Nasional, karena memang sekolah itu di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional. Yang terpenting adalah di Kementerian Kesehatan sudah tidak ada lagi jenjang pendidikan setingkat     SMA yang dulu sekolah Perawat Kesehatan (SPK) sudah di   hapus. Di dalam per temuan - pertemuan   para tenaga kesehat an juga sudah sepakat bahwa pendidikan keperawatan yang diakui adalah minimal DIII Keperawatan.
Lantas lulusan SMK Kesehatan nasibnya bagaimana? Mereka dipersilahkan melanjutkan ke DIII keperawatan atau bahkan bisa langsung mengambil S1 Keperawatan.
Dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PPNI juga sudah disebutkan bahwa lulusan SMK Kesehatan belum diakui sebagai Perawat.
Narasumber  berikutnya adalah Drg. Asmanah yang memberikan materi tentang jenjang karir perawat. Beliau menjelaskan bahwa perawat bisa diakui sebagai perawat ahli apabila telah memenuhi kriteria yaitu : mempunyai ijazah minimal S1 keperawatan, telah mengikuti dan lulus diklat fungsional perawat ahli dan yang paling penting adalah adanya formasi di instansinya.
 Apabila salah satu dari kriteria tersebut belum dicukupi maka perawat tidak / belum bisa diakui sebagai perawat ahli. Yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana upaya perawat untuk membuat kajian - kajian kebutuhan tenaga ahli di lingkungan instansi kerjanya dan hasil kajian tersebut diserahkan ke Badan Kepegawaian Daerah melalui Kepala Urusan Kepegawaian masing - masing unit.
Di daerah lain sudah ada perawat yang diakui sebagai perawat ahli, bahkan ada perawat yang menjabat kepala PUSKESMAS. Sedangkan di Sidoarjo memang belum ada. Jadi jangan terlalu dipikirkan apabila ada kepala PUSKESMAS baru yang pangkatnya lebih rendah dari perawat senior di instansi tersebut.
Bu Asmanah begitu beliau dipanggil sangat membuka diri apabila rekan - rekan perawat ada yang perlu didiskusikan tentang jenjang karir perawat tersebut dipersilahkan untuk datang ke kantornya.
Demam MPKP
Instansi - instansi kesehatan di Sidoarjo mulai menerapkan MPKP sebagai cara penerapan asuhan keperawatan kepada pasien, baik secara tim, perawat primer dan sebagainya, perlu diketahui bahwa pada awal tahun 2000-an, dunia keperawatan Indonesia mulai dilanda demam trend baru, yaitu model praktik keperawatan profesional atau disingkat MPKP.
Gagasan penerapan MPKP ini, bermula dari kesadaran bahwa sudah saatnya perawat Indonesia mengaplikasikan tatanan model praktik keperawatan berbasis profesionalitas. Profesional dari sisi sumber daya manusia, sarana-prasarana, dan yang terpenting profesional dalam hal mutu asuhan keperawatan yang diberikan pada klien. Implementasi konsep MPKP, terutama di area keperawatan jiwa, dimotori dan di- support sepenuhnya oleh Dr. Budi Anna Keliat, M.App.Sc beserta crew dari FIK UI. Meskipun tidak bisa dibilang mulus-mulus saja, namun penerapan MPKP lambat laun mulai diadopsi oleh sebagian besar RSJ di Indonesia, seperti RSJ Bogor, RSJ Magelang, RSJ Lawang, RSJ Surakarta dan RSJ Semarang. Hasilnya cukup signifikan dalam meningkatkan kinerja perawat dan mutu layanan keperawatan jiwa.
Setidaknya itu menurut hasil beberapa riset yang rutin dipublikasikan lewat forum konferensi nasional keperawatan jiwa (KONAS Jiwa) yang hampir tiap tahun digelar.
Setelah hampir satu dekade penerapan MPKP, mulai muncul pertanyaan-pertanyaan yang menyoal kata per kata dalam singkatan MPKP. Ada yang menyoal penggunaan kata model, ada pula yang menyoal kata praktik, dan ada pula yang menyoal kata profesional. Kata model disoal karena katanya terlalu berbau laboratoris, prototype, dan tidak untuk konsumsi publik. Kata profesional disoal karena katanya merendahkan (baca: menganggap tidak profesional) praktik keperawatan yang telah dilakukan sebelumnya. Kata praktik, akhir-akhir ini juga disoal karena kata tersebut dengan identik dengan mahasiswa praktek atau praktek mahasiswa. Kemudian muncul ide untuk mengganti kata praktik dengan kata pelayanan, sehingga kepanjangannya berubah menjadi model pelayanan keperawatan profesional, singkatannya masih tetap MPKP. Ide paling mutakhir yang gencar dimunculkan adalah mengganti kata pratik menjadi asuhan, hal ini didasarkan pada beberapa literatur manajemenkeperawatan yang menyebut MPKP dengan istilah MAKP. Sepintas, ide mengganti kata-kata dalam singkatan MPKP kelihatan cerdas, kritis dan peka keadaan. Namun benarkah demikian? Mari kita coba berpikir kritis sejenak.
Kata model tidak perlu diganti, karena harus diakui bahwa memang terdapat banyak model dalam mengaplikasikan konsep keperawatan. MPKP hanya salah satu model yang ditawarkan dan dirasa pas dengan kondisi keperawatan di Indonesia. Kata profesional juga tidak perlu diganti dengan kata lainnya, karena harus diakui bahwa praktik keperawatan yang dilakukan sebelumnya memang jauh dari kesan profesional. Penggunaan kata profesional juga sangat menginspirasi setiap perawat yang sudah mencoba bekerja dalam format MPKP. Jadi tidak ada yang salah dengan penggunaan kata profesional dalam MPKP. Kata praktik juga sama sekali tidak perlu diganti dengan kata pelayanan atau kata asuhan karena hakikatnya pelayanan keperawatan adalah praktik keperawatan, yaitu suatu praktik yang diberikan pada klien berdasarkan keahlian, keterampilan, konsep, teknologi dan tata etika keperawatan  yang dapat dipertanggung jawabkan. Kata praktik keperawatan sama sekali tidak identik dengan penyebutan untuk praktek mahasiswa atau mahasiswa praktek di rumah sakit. Kata praktik bermakna lebih luas karena mewakili jenis pelayanan publik yang dilakukan oleh kaum profesional, termasuk perawat. Sebagai bukti, lihat saja profesi kedokteran, mulai dari undang-undangnya disebut undang-undang praktik kedokteran (bukan pelayanan kedokteran atau asuhan kedokteran), ketika buka pelayanan mandiri di rumah atau di apotik, mereka menyebutnya praktik umum atau praktik spesialis. Terakhir, kata praktik juga tidak perlu diganti dengan kata asuhan karena justru akan mempersempit lingkup praktik keperawatan. Seperti kita ketahui bahwa dalam pendekatan MPKP, ada management approach (pendekatan manajerial, yang menjadi area kepala ruang) dan care delivery approach (pendekatan asuhan keperawatan, yang menjadi area ketua tim). Jika kata praktik diganti dengan kata asuhan, maka pendekatan yang diberikan semata-mata pendekatan asuhan keperawatan, pendekatan manajerial keperawatan sama sekali tidak diberi tempat. Apa itu yang kita mau? Masih ingin mengganti MPKP dengan kepanjangan yang lain? Masih ingin mengganti MPKP menjadi MAKP?
Kesimpulannya tidak ada satu katapun dalam singkatan MPKP yang harus diganti. Biarkan apa adanya. Karena yang terpenting bukan menyoal singkatannya, tapi bagaimana mengimplementasikan konsep MPKP secara optimal, sehingga keperawatan benar-benar menjadi backbone pelayanan prima dan profesional rumah sakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar